loading...

Sandi Santri dan Ulama, lalu Prabowo

loading...



Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya.

Menurut hasil sensus tahun 2010, 87,18% dari 237.641.326 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 6,96% Protestan, 2,9% Katolik, 1,69% Hindu, 0,72%, Budha, 0,05% Kong Hu Cu, 0,13% agama lainnya, dan 0,38% tidak terjawab atau tidak ditanyakan. Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa "tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya" dan "menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya".


Karena mayoritas agama di Indonesia adalah Islam, tidak heran kebanyakan pemimpin daerah hingga Presiden di Indonesia beragama Islam. Dalam proses kampanye pun masing-masing timses berusaha memberikan citra pada masing-masing calon baik Pilkada maupun Pilpres, sebagai orang yang dekat dengan agama.

Caranya dengan melekatkan istilah-istilah yang identik dengan identitas agama Islam. Seperti santri dan ulama. Dengan asumsi bahwa masyarakat Indonesia akan lebih memilih seorang santri, ulama sebagai pemimpin mereka. Karena seorang santri, ulama dianggap orang yang taat beragama dan bisa menjadi pemimpin yang amanah.

Dalam level Pilpres kita sering mendengar sebutan santri dan ulama yang dilekatkan kepada jagoannya. Kita masih ingat, titel santri dilekatkan pada Sandiaga Uno. Citra santri Sandiaga Uno didapat ketika pendaftaran calon presiden dan wakil presiden ke KPU Agustus yang lalu.

Presiden PKS, Sohibul Iman berpendapat bahwa Sandiaga Uno adalah santri yang cocok dengan perkembangan zaman, santri kekinian. Sohibul Iman menggunakan istilah santri post islamisme untuk merujuk Sandiaga Uno.

Kita yang mendengarnya mengernyitkan dahi. Politik sampai segininya. Padahal PKS merupakan partai Islam, kok begitu mudah memaksakan diri mengatakan bahwa Sandi merupakan seorang santri. Padahal mondok saja tidak pernah, sekolah reguler saja di sekolah yang kebanyakan non muslim. Lah kok maksa banget disebut santri.

Mungkin maksud Sohibul ingin memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa Sandi adalah santri dan layak jadi pemimpin. Tapi tentu saja publik sudah cerdas. Boro-boro menganggap Sandi santri kita malah antipati. Apalagi sekarang telah viral video Sandi melangkahi makam salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Masa sih santri kok seperti itu. Kita pun yang bukan santri, kalau hanya tentang hukum melangkahi makam yang tahu lah, tidak usah jadi santri dulu.


Eh seolah ikut-ikutan dengan Sohibul Iman, Hidayat Nur Wahid (HNW), Wakil ketua Majelis Syuro PKS, bahkan menyebut Sandiaga Uno sebagai ulama. “Menurut saya sih Pak Sandi itu ya ulama. Perilakunya, ya perilaku yang juga sangat ulama, beliau melaksanakan ajaran agama, beliau puasa Senin-Kamis, salat duha, salat malam, silaturahim, menghormati orang-orang tua, menghormati semuanya, berakhlak yang baik, berbisnis yang baik, itu juga satu pendekatan yang sangat ulama. Bahwa kemudian beliau tidak bertitel KH karena memang tidak belajar di komunitas tradisional keulamaan.”

HNW menyebut Sandi sebagai ulama harus kita apresiasi. Apalagi Sandi menyatakan hampir tiap hari ziarah (melangkahi) makam. Sungguh ulama yang tawadu selalu ingat kematian.

Lalu bagaimana dengan Jokowi? menurut KH. Maruf Amin, Jokowi juga dianggap santri. Karena ada hubungan keilmuan. Yang mengajari agama Pak Jokowi itu alumni senior dari Situbondo.

Sandi disebut santri post islamisme, bahkan oleh HNW disebut ulama. Jokowi pun oleh KH. Maruf Amin disebut santri karena berguru kepada alumni dari Situbondo. Terus Maruf Amin seolah ulama (Nah yang ini mah perlu diragukan lagi). Bagaimana dengan Prabowo?

Sampai saat ini kita belum mendengar Prabowo disebut santri atau ulama. Bukan tidak mungklon lo Prabowo ada yang menyebut santri atau ulama. Sandi juga bisa kenapa Prabowo tidak? Cawapresnya saja bisa apalagi Capresnya? Tapi yang menyebutnya pastilah balad-baladnya.

Mungkin diantara mereka belum ada yang berani, belum ada yang nekad menyebut Prabowo sebagai santri atau ulama. Ketika Sohibul dan Hidayat menyebut Sandi santri dan ulama, rasanya saya tiba-tiba pusing, mual dan pingin muntah. Kalau Prabowo disebut santri atau ulama, apa yang pembaca rasakan?



Tapi apapun sebutannya sebagai pemilih yang cerdas kita harus tahu yang sebenarnya. Betul tidak?


0 Response to "Sandi Santri dan Ulama, lalu Prabowo"

Posting Komentar