loading...

Alasan jadwal padat, memastikan tidak melanggar aturan Pemda dan efektifitas acara Reuni 212, menjadi tiga hal yang dipertimbangkan Sandiaga Uno tentang kemungkinannya hadir di acara itu.
Jika kita cermati, cawapres yang mantan Wagub DKI ini seperti enggan meleburkan diri dalam eforia bersama para pendukungnya, barangkali karena khawatir semakin lekat dengan label mendukung intoleransi dan penganut paham radikal.
Seperti dipahami publik, para alumni gerakan 212 yang rajin melakukan aksi-aksi bela Islam atau bela Tauhid tidak mudah dipisahkan dengan para pentolah ormas Islam garis keras, karena ketika mereka melakukan aksi menentang cagub DKI petahana tahun 2016 hingga awal 2017, agenda mereka sangat kental dengan nuansa politik, dimana bertujuan mencegah pejabat non muslim di DKI.
Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno belum memastikan kehadirannya di reuni 212 pada 2 Desember mendatang. Sandiaga mengatakan ada tiga hal yang menjadi pertimbangannya.
Sandiaga berpendapat kegiatan itu lebih penting demi mengejar ketertinggalan elektabilitasnya dan Prabowo Subianto di pemilihan presiden 2019. "Kalau kami mau mengejar ketinggalan kan kami lebih rajin turun ke bawah," kata Sandiaga di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 21 November 2018. suber : Sandiaga Tidak Janji Hadiri Reuni 212.
Ketika Reuni aksi 212 tidak menunjukkan kejelasan agenda yang akan diusungnya, kita mudah menduga bahwa mereka sebenarnya hanya ingin unjuk kekuatan. Dan berharap kehadiran sosok-sosok capres dan cawapres dukungannya, akan semakin memperkuat legitimasi gerakannya.
Namun ketika Sandiaga tampak ogah-ogahan untuk melibatkan diri, sepertinya massa tersebut mulai tidak dianggap penting oleh kedua kontestan itu, bahkan bisa jadi keduanya lebih khawatir ditinggalkan oleh simpatisan dari kalangan lain ketimbang larut dengan aksi bersama ormas garis keras.
Hasil survei yang hingga saat ini belum menunjukkan akan mengimbangi popularitas capres petahana, bisa dipandang oleh para kontestan penantang, salah satu penyebabnya adalah keengganan para pemilih berpihak kepada calon yang didukung para intoleran.
Dan Sandi tampaknya ingin melakukan test case, ketika dirinya mencoba mengambil jarak dengan para alumni 212. Keluhan yang beberapa kali diucapkan Prabowo, bahwa dirinya dituding mendukung kaum radikal, merupakan indikasi adanya label seperti itu karena seringnya mereka tampil bersama ulama penggagas aksi 212.
Lebih-lebih saat ini ulama yang semula dianggap berdiri bersama para pelaku aksi 212, yakni KH. Ma’ruf Amin, berada di kubu Jokowi, semakin lengkap pula anggapan bahwa gerakan 212 tidak lagi memiliki dasar untuk terus digelorakan.
Pihak Polda Metro Jaya bahkan hingga saat ini mengaku belum menerima surat pemberitahuan tentang rencana reuni tersebut. Para pencetus ide acara, mungkin sedang berharap-harap cemas, karena gelagatnya agenda politik yang akan ditumpangkan pada acara reuni ini berpotensi gagal menghadirkan para kontestan pilpres yang didukungnya.
Adapun klaim penggagas aksi tentang izin dari Gubernur DKI Anies Baswedan, perlu juga diklarifikasi, siapa sebenarnya yang paling berwenang memberikan izin. Apakah pihak Polda ataukah Gubernur ? Karena dampaknya dari sisi keamanan cukup beresiko, tentu saja dalam hal ini pihak kepolisian menjadi lebih berkepentingan.
Kalaupun Gubernur sudah memberikan lampu hijau, barangkali karena rasa sungkannya sebagai merasa berhutang telah mendapat dukungan ketika maju sebagai kontestan pilgub. Namun sejatinya harus ada koordinai antara pemda dengan pihak keamanan guna memastikan agenda ini tidak menimbulkan potensi kerawanan.
Setidaknya ada beberapa faktor yang memperkuat dugaan bahwa acara reuni 212 kali ini terkesan tidak sekencang di masa lalu. Mungkin yang merasakan kuatnya spirit aksi 212 adalah mereka yang sejak awal menjadi pencetus aksi bela Islam. Sementara mereka yang berasal dari kalangan politisi, seperti sedang lesu darah, karena merasa tidak akan berdampak banyak kepada mereka.
Justru yang menimbulkan pertanyaan, adalah kesan tak bersemangatnya cawapres kubu koalisi Adil Makmur, seperti ingin menghindari acara ini dengan alasan agenda kampanye yang padat, sementara yang paling mungkin mengambil keuntungannya adalah pasangan capres-cawapres.
Mungkin kejadian seperti video di atas ini belum seberapa, tapi lihatlah para pengikut kaum radikal, ke depan akan melakukan tindakan lebih dari sekedar adegan pada siaran Televisi tersebut.
Sikap sok berkuasa dan sok paling benar, mungkin itulah yang ingin mereka tunjukkan, dan sekali waktu capres dan cawapresnya sendiri akan kian sulit mengendalikannya. Kecuali memiliki gaya yang sama dengan mereka, main gertak atau main ancam. Logis pula jika pasangan capres-cawapres ini mulai khawatir dengan kecenderungan berulangnya aksi yang mengerahkan massa demikian banyak, apalagi jika kebiasaan ini terus terjadi ketika mereka berhasil tampil ke tampuk kekuasaan.
0 Response to "Reuni PA 212 Antara Bela Islam atau Bela Capres????"
Posting Komentar