loading...

Timses Prabowo, Mardani Ali Sera, menjanjikan untuk menggaji guru sebesar 20 juta perbulan. Ini dilakukan untuk membuka peluang guru dari berbagai negara untuk datang ke Indonesia.
“Kita ingin attract guru-guru dari Finlandia, Eropa, Amerika untuk memperbaiki kualitas pendidikan kita disesuaikan dengan kompetensinya,” kata Mardani.
Beberapa teman saya yang guru sekolah dasar dan sederajat mulai bermimpi. Mereka tidak membaca pernyataan secara utuh, hanya fokus pada janji gaji 20 juta perbulan untuk profesi guru di Indonesia. Kalau punya gaji 20 juta, betapa indahnya dunia. Kira-kira begitu yang mereka bayangkan.
Padahal maksud Mardani yang sebenarnya adalah, dia ingin mengimpor guru dari Eropa, lalu memberinya gaji 20 juta rupiah perbulan. Jadi gaji guru PNS di Indonesia tetap sama seperti sekarang, atau mungkin juga dikurangi untuk ‘mensubsidi’ guru-guru dari eropa. Hal ini harus saya jelaskan, supaya teman-teman guru paham maksud dan tujuannya. Supaya sekarang kalian bisa membayangkan dengan asumsi yang benar. Bagaimana rasanya menjadi guru dengan gaji 2 jutaan perbulan, mengajar murid yang sama, jumlah jam yang sama, tapi orang asing malah digaji 20 juta? Apalagi gaji kalian berpotensi dikurangi demi mensubsidi guru impor tersebut.
Nah, kalau sudah membayangkan dengan benar, sesuai maksud tim Prabowo, pertanyaannya kemudian, apakah kalian mau Indonesia jadi seperti itu? yang lebih menghormati dan menghargai orang asing dengan gaji puluhan juta. Saya yakin jawaban teman-teman guru adalah sama, tidak. Kita tidak ingin ada guru eropa yang menyedot anggaran, padahal ngajarnya sama.
Selain itu, bukan hanya soal anggaran yang tidak masuk akal, memberatkan APBN dan pasti harus mengurangi gaji guru-guru di seluruh Indonesia, tetapi juga soal budaya. Orang-orang eropa itu tidak paham dengan budaya Indonesia. Misal baca bismillah atau doa bersama sebelum belajar mungkin akan dihapuskan. Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, pun bisa jadi dihilangkan dan diganti dengan bahasa inggris. Kalaupun mau memaksa guru-guru eropa itu belajar bahasa Indonesia, mau seberapa lama? Dan katakanlah akhirnya mereka bisa bahasa Indonesia, bagaimana dengan bahasa daerah? bukankah anak-anak dari tingkat SD hingga SMA itu masih kerap menggunakan bahasa daerahnya?
Belum lagi dengan adat budaya kita. Biasanya kelulusan disambut dengan syukuran atau shalawatan, kalau dengan guru-guru eropa, apa mau diubah jadi pesta?
Maka saya setuju dengan pernyataan Hasto, Sekjen Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf. “Kalau kita terlalu banyak impor (guru) nanti seluruh makam diloncatin. Kan nggak bagus. Karena mereka nggak paham budaya kita.”
Karena jangankan orang asli eropa, Sandiaga saja yang asli orang Indonesia, hanya karena didikan luar negeri, sekarang tingkahnya aneh-aneh. Mulai dari berjalan dan main-main di lingkungan pemakaman, sampai melangkahi makam ulama NU.
Jadi kesimpulannya, dari seluruh sudut pandang, mengimpor guru dari eropa dan menggajinya 20 juta rupiah perbulan bukanlah sebuah tawaran perbaikan. Melainkan jurang rusaknya Indonesia di masa depan. Mulai dari rusaknya anggaran APBN, rusaknya budaya, hingga menimbulkan kecemburuan sosial yang tinggi. Sehingga ujung-ujungnya akan terjadi demonstrasi, tidak puas dan tidak terima dengan guru-guru eropa yang dispesialkan.
Selain itu, apa yang disampaikan Mardani sebenarnya murni bacot saja. Sebab guru-guru di Amerika bergaji kisaran 60 hingga 80 juta perbulan. Hal ini dapat kita lihat pada bulan April lalu, ada kebijakan kenaikan gaji guru menjadi $ 6.100 atau setara dengan 84 juta rupiah. Namun tetap saja guru-guru di Amerika berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji guru. Sekitar 40 ribu orang turun ke jalan.
Jadi kalau Mardani mau memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia dengan membuka peluang orang asing untuk mengajar di sini, menawarkan gaji 20 juta perbulan, maka jelas pancingan tersebut pasti salah sasaran. Kerena di luar negeri, Amerika misalnya, gaji guru sudah 80an juta. Untuk apa mengajar di Indonesia dan mengejar gaji 20 juta? Belum lagi disuruh belajar bahasa Indonesia yang pasti tidak mudah.
Kalaupun nantinya ada guru-guru luar negeri mau mengajar di Indonesia, bisa dipastikan mereka adalah guru-guru dengan kualitas buruk, atau yang sudah ditolak sana-sini atau guru pecatan yang tak punya pilihan lain kecuali datang ke Indonesia menerima gaji 20 juta.
Pada akhirnya, janji menaikkan gaji guru hingga 20 juta rupiah ini sebenarnya hanya bertujuan untuk mendapat perhatian publik. Yang penting viral. Kalaupun ngaco dan mustahil dilakukan, yang penting dibicarakan dan elektabilitasnya naik. Karena mereka ini memang tak punya niat memperbaiki Indonesia. Tujuan mereka hanya elektabilitas dan dikenal. Maka jangan heran kalau Prabowo ngejek-ngejekin orang, Sandiaga melangkahi makam, naru pete di kepala, dan timsesnya membuat janji kenaikan gaji guru hingga 20 juta perbulan. Begitulah kura-kura. #JokowiLagi
0 Response to "Tim Prabowo Mau Impor Guru Asing, Digaji 20 Juta, PNS Kita Siap Potong Gaji?"
Posting Komentar